Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Mengenal Soekarno Dengan Buku : “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”

Mengenal Soekarno Dengan Buku : “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”

Oleh : Solahuddin Tamimi

Di part pertama sudah dibuka bahwa buku itu adalah jendela, dan membukanya dengan membaca, kali ini mulai memasuki ruang demi ruang, agar merasakan tinta keringat dan perjuangan yang mencoba kita resap semangat itu dan merasakan perjuangan setiap nafasnya. Setiap tulisan bisa menggambarkan bagaimana suasana hati dan pikiran ketika menulis, begitupun aku yang menulis ini dengan keadaan hati dan pikiran yang sedang berapi-api karena terpengaruh oleh buku karya Budiman Sujatmiko yang berjudul anak-anak revolusi.

Buku yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” dijadikan alat untuk mengenal Bung Karno, diawali dari kata INDONESIA-MUDA, kata ini terletak di paragraf pertama Bab satu, dimana Bung Karno ini menuliskan Indonesia muda sebagai datangnya cahaya fajar yang terang benerang. Di bab satu berisi bagaimana persatuan itu diciptakan, bahwa yang dimaksud Indonesia Muda itu sudah saatnya persatuan itu terjadi, agar Imprealisme dan Kolonialisme menghilang dari bumi pertiwi ini.
Pergerakan di seluruh negara asia berasaskan faham-faham Agama, Nasionalisme dan Marxisme, kemudian diadopsi oleh Bung Karno menjadi Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Dimana setiap faham memiliki roh pergerakan masing-masing, Bung Karno membayangkan dapatkah ketiga roh pergerakan ini bekerja sama untuk melawan penjajahan pada saat itu?, yakni menjadi roh persatuan yang akan membawa pada kemerdekaan.

Salah satunya dikolaborasikan antara paham Budi Utomo gaya nasionalisme yang evolusioner dengan faham Komunisme yang bersifat revolusioner, dengan kebangsaanlah ketiganya bisa disatukan, karena bangsa suatu nilai persatuan. Dalam keIslaman ada 2 tokoh yang disebutkan oleh Bung Karno yakni Muhammad Abdouh dan Sayyid Jamaluddin Al Afghani, dimana kedua tokoh ini sebagai pelopor kebangkitan Islam di Benua Asia yang terus mengkhatbahkan kebobrokan Imperealisme Baratt. Bahwa Islam sejati memiliki tabiat-tabiat Sosialisme.
Seringkali ketiga paham ini diadu dombakan oleh penjajah, yang Islam mengangkap Marxisme adalah kesesatan, Marxisme memangdang yang Beragama adalah kemabukan, dan Nasionalisme dianggap sebagai Fasisme, Bung Karno menjelaskan bahwa “jikalau kita insyaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya bukan didalam menerima, melainkan dalam memberi, jikalau kita insyaf bahwa perceraian itu letaknya benih perbudakan dan permusuhan itulah yang menjadi asal kehancuran”. Bahwa ditengah-tengah kegelapan ini dibutuhkan persatuan untuk membentuk cahaya sinar yang satu.

Sebab sinar itu dekat.

Dari sini kita bisa sedikit membaca bagaimana hati dan pikiran Bung Karno yang amat resah terhadap permusuhan antar sesama, dengan berusaha sekuat tenaga Bung Karno menyatukan ketiga faham itu, memang secara kasat mata seperti bertentangan satu sama lain, pada hakikatnya ketiganya memiliki kesinambungan yang jika Bersatu menjadi kekuatan yang besar, mengenal Bung Karno dibab satu ini, kitab isa menilai bahwa beliau cinta persatuan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan semangat api yang tak pernah padam mengusir Imperealisme Barat dari negeri ini.