Berita

 Network

 Partner

Sarung Batik Kaumanan Hadir dengan Keindahan Etnik, ini Filosofinya
Sarung Batik Pakem Kaumanan, Wakili Etnis dan Filosofi Pekalongan, (Berita Baru Jateng)

Sarung Batik Kaumanan Hadir dengan Keindahan Etnik, ini Filosofinya

Berita Baru Jateng, Pekalongan – Bosan dengan motif batik yang biasa saja? Kalau iya, mari tengok sebentar motif sarung batik Pakem Kaumanan. Motif baru tersebut merupakan perpaduan beragam motif yang sudah ada, yakni motif Buketan, Parang, dan Jlamprang.

Ketua Perkumpulan Kampung Batik Kauman (PKBK), Husni Mubarak menjelaskan, motif sarung batik Pakem Kaumanan mewakili setiap unsur etnis yang ada di Pekalongan dan filosofi tertentu.

“Terlihat motif Parang memiliki arti hubungan kita dengan Tuhan. Kemudian, motif Jlamprang, kita ambil unsur bahwa histori di Nusantara ini, agama mayoritasnya adalah Islam yang berasal dari Gujarat,” terangnya, pada acara peluncuran motif sarung batik Pakem Kaumanan, di Kampung Kauman, beberapa hari lalu.

Berita Terkait :  Waspada! Sepuluh Jalur di Solo Ini Adakan Operasi Menjelang Ramadhan Demi Antisipasi Pemudik

Di tempat yang sama, Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid, menyampaikan ucapan selamat atas peluncuran motif tersebut. Menurutnya, motif baru tersebut merupakan wujud kreativitas para penggiat dan perajin batik di Kota Pekalongan.

“Motif ini sudah sangat mewakili semua unsur etnis yang ada di Pekalongan (Jawa, Arab dan Tionghoa). Jangan sampai berhenti disini. Agar motif batik Pekalongan ini bisa lebih kaya dan menambah khasanah budaya batik,” kata wali kota.

Aaf mengingatkan para perajin dan pengusaha batik di Kota Pekalongan untuk turut menjaga lingkungan.

“Jangan sampai merusak lingkungan, sungai sekitar,” tuturnya.

Ia juga mendorong para pengusaha batik untuk menjamin kesejahteraan para perajin batik agar regenerasi batik dapat berjalan dengan baik.

Berita Terkait :  Pemkab Pekalongan: Selenggarakan Kompetisi Bercerita 2021 Setingkat SD dan MI

“Ini menjadi PR bersama bagaimana menjamin kesejahteraan para pengrajin batik, agar tetap lestari dan regenerasi pengrajin batik. Jika kita lihat, anak muda sekarang jarang yang mau belajar membatik, ngelorod, cap, dan tulis,” imbuhnya.

(KDT)