Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pentingnya Inisiatif dan Keberanian dalam Pengarusutamaan Gender di Tingkat Tapak
Kurniawansyah Effendi Kepala Subbagian Tata Usaha BPHP Wilayah II Pekanbaru dan Sarah Monica host Beritabaru.co dalam Podcast seri ke-6, Publikasi dan Diseminasi Praktik Baik, Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Senin (17/1).

Pentingnya Inisiatif dan Keberanian dalam Pengarusutamaan Gender di Tingkat Tapak



Berita Baru, Jakarta – Untuk optimalkan Pengarusutamaan Gender (PUG) di tingkat tapak, siapa pun membutuhkan inisiatif dan keberanian.

Berdasarkan paparan dari salah satu peserta terbaik Training for Ecogender Training Hub (TEACH) dalam festival gender Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Juni – Desember 2021, Kurniawansyah Effendi, implementasi gender hingga hari ini masih berputar di pusat.

Adapun di tingkat tapak, nilai-nilai gender masih sama sekali perlu digemakan dan menurut Wawan, sapaan akrabnya, untuk melakukan kerja ini, instansi mana pun butuh satu inisiator yang berani.

Apa yang Wawan sampaikan tersebut sebenarnya merupakan representasi dari pengalamannya ketika menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Badan Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) wilayah III Pekanbaru.

Sebagaimana yang Wawan sampaikan dalam Podcast seri ke-6 hasil kerja sama antara Kelompok Kerja (Pokja) PUG KLHK, Beritabaru.co, dan The Asia Foundation (TAF) pada Senin (17/1), di tahun 2017, ia mendapati ada yang tidak optimal dalam kinerja beberapa pegawai perempuan di kantornya.

“Pekerjaannya teman-teman perempuan kurang optimal, saya dapati. Mereka sering pulang ke rumah sebelum jam istirahat,” ungkap Wawan

Dari hasil pengamatan sederhana dan diskusi dengan para perempuan, Wawan menemukan bahwa para pegawai perempuan memiliki tanggungan anak di rumah, sehingga itu tidak memberikan mereka banyak pilihan.

Dengan ungkapan lain, kata Wawan, mereka mengemban beban ganda: kantor dan anak sekaligus tugas rumah tangga. Akibatnya, tugas di kantor sering terbengkalai.

Mendapati ini, Wawan sigap. Ia mencari ruang di kantor yang tidak terpakai dan menyulapnya sebagai ruang laktasi. Persoalan anggaran, Wawan tidak ambil pusing. Ia memberanikan diri untuk melakukan intervensi anggaran.

Hasilnya, pada 2019 para pegawai perempuan tidak lagi sering pulang karena mereka diperbolehkan untuk membawa anaknya ke kantor dan menyusui di fasilitas yang telah disediakan.

“Dengan begini, para ibu bisa bekerja sambil mengawasi anaknya. Soal ini pun, kami akan berupaya untuk selalu melengkapi fasilitas di dalamnya. Dan alhamdulillah pada 2021, sudah ada AC dan freezer untuk menyimpan susu,” paparnya.

Wawan berpandangan, perempuan dan laki-laki penting untuk diberi kesempatan yang sama. Salah satu cara untuk menuju ideal tersebut yaitu dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan perempuan di lingkungan kerja.

Gender tidak terbatas pada perempuan dan laki-laki

Dalam podcast yang ditemani langsung oleh Sarah Monica, host kenamaan Beritabaru.co, laki-laki yang sekarang menjabat sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha BPHP Wilayah III Pekanbaru ini juga berbagi tentang pandangannya soal gender.

Menurut Wawan, gender bukan saja menyangkut perempuan dan laki-laki, tetapi juga kelompok rentan, termasuk mereka yang cacat.

“Gender bagiku itu ya soal kelompok rentan dan yang cacat juga. Iya, cacat seperti saya yang suaranya sejak kecil tidak jelas ini,” ungkapnya percaya diri.

Konstruksi gender seperti ini penting sebab bisa memberi pengaruh positif yang luar biasa pada penyandang disabilitas. Wawan mengaku, dengan diterapkannya nilai-nilai gender di lembaga-lembaga KLHK, pihaknya menjadi terpacu untuk menjadi lebih baik.

“Saya merasa selalu terpacu ya untuk menjadi lebih baik dari yang normal,” tegasnya.

Seperti yang dikisahkan, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Wawan kerap diejek teman-temannya karena suaranya yang tidak jelas. Namun, di sepanjang prosesnya Wawan menyadari satu hal: ia memiliki kelebihan yang orang lain tidak memilikinya.

“Akhirnya saya menyadari, suara ini adalah anugerah di samping anugerah-anugerah lain yang telah diberikan pada saya,” ujar Wawan.

Meski demikian, yang lebih Wawan syukuri adalah adanya dukungan penuh dari keluarga, termasuk dukungan dari kebijakan instansi tempat ia kerja saat ini.

“Saya yakin, jika tidak ada dukungan-dukungan seperti ini, khususnya dari keluarga, ceritanya akan sangat berbeda,” jelas alumni Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) ini.